Waktu menunjukkan sekitar pukul 14.20
wita, aku duduk di sebuah warung depan kampus sambil memandangi
kendaraan dan orang-orang yang lalu lalang. Tidak kuperdulikan tatapan
mata yang sebagian dari mereka merasa risih dipandzangi lekat-lekat
olehku. Aku hanya menunggu sebuah mobil dinas dan seorang sopir dinas
menjemputku untuk pulang di rumah….aku lapar dan lagi malas jajan di
kampus, apalagi cuaca hujan makanya, aku jadi tambah malas pulang
sendiri naik angkot. Minimal, saya harus memanfaatkan sedikit
keuntungan dari fasilitas yang diberikan pemerintah ke bokap gue yang
kerja keras untuk kehidupan keluarga.
Lama….lama…lama….banget
aku nunggu, sampe akhirnya aku mulai jenuh dan memandangi deretan meja
panjang di warung bakso, tepatnya sebuah rumah kecil yang ‘berandanya
dipinjam’ sama tukang bakso namanya, ‘Smile’, baksonya memang enak jadi
wajar aja anak-anak kampus dengan jajanan kampus memang cuma
’segitu-gitu aja’! Dari deretan meja panjang yang tengah aku amati, aku
melihat salah satu pemilik rumah dan warung tengah asyik mencat
beberapa gabus-gabus bekas dengan aneka warna-warna indah, lalu dia
juga sibuk memotong-motong dan membentuk gabus-gabus, kertas-kertas,
dan beberapa tali….
Agak sedikit bingung memang aku mengamatinya.
Tersadar gabus-gabus tersebut rupanya berbetntuk kupu-kupu dan
bunga-bunga dengan corak warna yang tabrak-tabrak serta potongan
pinggirannya yang kasar dan agak semrawut. Lalu aku mengamati di atas
kepalaku, rupanya ada banyak gabus-gabus beraneka bentuk digantung di
koseng-koseng warung, lalu di beberapa sudut tembok warung juga ada
beberapa botol bekas sirop yanng diisi air dan dihiasi berbagai
ornamen, serta dicelupkan beberapa sedotan aqua sampai tinggi menjulang
dan di atasnya ditusukkan sebuah bunga dari gabus…
Hhhmmm…aku
tersenyum…tidak hanya itu, dipagar-pagar rumahnya terbentang beberapa
alas piring untuk meja makan yang digantung sejajar dari ujung pagar ke
ujung berikutnya…Secara sederhana, semua hiasan-hiasan hasil
kerajinan tangan itu memberikan sentuhan yang ‘unik’ dan tidak biasa.
atau dilihat emang sepertinya kurang kerjaan…dan itu bisa saya tahu
dari banyaknya mahasiswa yang sering makan disitu hanya tersenyum
‘merendahkan’ atau hanya tersenyum kecil melihat semua hiasan itu.
Apalagi ’si pembuat’ juga agak cerewet dan rewel bila ‘hasil kerajinan’
tangannya lecet sedikit saja. Padahal warung itu ukurannya sempit dan
kecil, mahasiswa dan mahasiswi sering berdesak-desakkan, apalagi bila
ditambah dengan warga sekitar yang ‘lapar’nya sama dengan mahasiswa.
Kebayang dounk, bagaimana hiasan-hiasan itu secara nggak senhaja telah
dibantai!
Tapi, saya bukan mau omongin bagaimana hiasan itu
‘bertahan’, tapi lebih bagaimana orang bisa mengapresiasikan ’sesuatu’
dari dalam pikirannya. Semua hiasan yang ada di warung itu sepertinya
memang ‘turun harga’ kalo dilirik dari art-nya
tapi, dari sisi positifnya, kita bisa lihat banyak barang bekas yang
bisa didaur ulang dan kalo di’asah’ sedikit saja jiwa kreatifnya, si
pembuat hiasan yang ada didepan kampus saya ini, bisa menghasilkan
sesuatu yang lebih berdaya guna. Banyak orang yang kreatif tapi nggak
berusaha untuk mengapresiasikan nalarnya, banyak juga yang pintar tapi
malas berusaha mewujudkannya alias hanya tergantung mood!
Memang…tampaknya
biasa aja…tapi berlajarlah melihat semua yang ada disekitar kita
dengan lebih bijak…maka semua yang positif akan menghampiri kita…