Guru—Ku
Uncategorized 3 Comments »Tau nggak sich, akhir-akhir ini kalo nonton sinetron remaja sekarang, koq gue jadi sedikit prihatin sama pemeran dan tokoh yang dilakoni dalam sinetron tersebut, apalagi kalau tokoh yang dilakoni itu adalah seorang guru. Kebanyakan dalam sinetron remaja yang ceritanya masih SD sampe SMU, si guru digambarkan sebagai seseorang yang ‘idiot’lah, ‘tukang bersin’lah,’gagap’lah dan yang pasti gampang banget dimain-mainin sama tokoh-tokoh si murid.
Coba pikir, kenapa sech karakter seorang guru harus segampang itu diremehin dalam sebuah adegan. Ini memang kelihatannya sepele tapi sebenarnya membuat miris hati kita yang sadar betul akan peranan seorang guru dalam memajukan pendidikan di negara kita. Coba merem untuk beberapa saat, renungin diluar daripada demo-nya guru-guru untuk peningkatan taraf hidup mereka…bayangin bagaimana jasa-jasa mereka. Tau donk, ada juga guru yang rela nggak dibayar untuk menyalurkan ilmu mereka, bahkan ada juga si guru yang membangun sekolah untuk anak-anak jalanan di bawah kolong jembatan. Bukankah, jasa dan pengorbanan serta patriotisme seorang guru itu patut kita tinggikan kodratnya…bukannya merendahkan ‘gelar tanpa jasa’ itu dengan menciptakan sosok guru menjadi bahan ejekan dan memperlihatkan betapa bodohnya sang guru di mata murid-muridnya….
Benar-benar, suatu perkembangan yang tidak ’sehat’ untuk komsumsi para remaja dan anak-anak. Benarkah guru hanya terlihat sebagai figur yang jadul, bahan lawakan dan terbatas seperti yang ada di dalam sinetron-sinetron???