Ayatayatcintathemoviebmp

Pagi ini, aku menyaksikan sebuah infotainment yang khusus membahas seputar flim kontroversial ‘ayat-ayat cinta’. Sebagai salah satu pecinta novel Ayat-ayat cinta karya Habiburrahman El-Shiraj tersebut, saya sendiri kurang begitu puas dengan flim yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo (salah satu sutradara Indonesia favoritku).
Ketika duduk di bangku salah satu gedung bioskop di Makassar yang paling tidak aku sukai (terpaksa, soalnya semua tiket di bioskop lain udah habis), sambil memegang sebuah handphone, aku menyaksikan flim tersebut dengan seksama. Aku memperhatikan sinematography-akting pemain-atmosfer flim-naskah-alur dan sebagainya, yah, itu artinya aku bukan hanya mengamati jalan cerita (berhubung sudah baca novel) khan?! Tapi aku rupanya tidak cukup puas mengamati semua itu.
Dari awal flim diputar, aku sudah mulai ogah-ogahan sebab, rupanya bayangan yang ada di kepalaku waktu aku baca novelnya tidak terlalu sama dengan yang terhampar di layar lebar bioskop ini. Disini aku sedikit memaklumi, bisa jadi alasan paling relaitis adalah bahwa imajinasi seseorang tidak pernah sama. Jadi sudahlah, hal ini aku cuekin saja. Tapi semakin lama, semakin aku mulai tidak konsentrasi untuk menghayati flim ini. Pikiranku mulai ngelantur (sedikit malah pergi melayang ke tempat pacarku) dan sedikit banyak aku mulai kebingungan, ada beberapa bagian dari novel yang tidak diangkat kedalam flim  dan ada sebagian adegan baru yang tidak pernah aku merasa sudah membacanya???
Aku berfikir, aku yang nggak baca baik-baik atau Hanung yang sengaja mo nambah2in?!
Ayatayatcinta

Ternyata benar, flim tersebut memang oleh Hanung di sebuah infotainmet menuturkan bahwa ia memang sengaja menghilangkan beberapa bagian dari novel dan menambahkan pula beberapa bagian yang tidak ada di novel. (Harap novel dan flimnya di simak sendiri)
Kemudian, infotaiment tersebut di dubbing oleh seorang cewek yang mengatakan "Penambahan dan pengurangan adegan dalam Flim ayat-ayat cinta ini tentu saja dilakukan mengingat novelnya sendiri terdiri dari beberapa halaman, bayangkanlah bila semua adegan dalan novel aslinya di detail ke dalam sebuah flim. Entah berapa jam durasi flim tersebut?  Jadi, protes keras dari para khalayak yang telah melontarkan protesnya hendaknya berfikir. Inilah salah satu bentuk dari ketidakdewasaan peminat novel dan penikmat flim layar lebar di Indonesia!" Busssyyyeeettt……kurang asem tugh infotainment bikin naskah ngaco!
Ada senyum sumringah terbentuk di wajahku, dengan spontan terbayang karya-karya flim yang telah terinspirasi dari novel-novel best seller macam Harry Potter, The Lord Of The Ring, dll. Tanyakan kepada para sutradara kondang nan hebat itu tentang upaya mereka untuk konsisten membuat flim tersebut 100% sama dengan novelnya (walaupun akhirnya tetap juga menuai protes dari para penggemar novel, tapi usahanya bho!). Adakah bagian penting dari novel TLOTR yang hilang di flimnya, bagaimana detail flim TLOTR di garap seserius mungkin hingga membawa flim tersebut memiliki durasi waktu yang nggak biasa, bagaimana pula dengan masalah penambahan adegan yang tidak ada dalam novel? Para pembuat flim yang mengadaptasi cerita dari novel bukan karena aji mumpung dari novel-novel tersebut bersikap profesional dan memuaskan masyarakat, dan kritik serta harapan  terbesar bagi mereka adalah bagiamana membuat  MASYARAKAT YANG SUDAH MEMBACA NOVEL tsb memberi reaksi terbaik!!!
Terus…mana negara Mesir-nya?? Cuma gambar piramid Giza dan padang pasir…..Mana Universitas Al-Azhar (wwuiihhh pasti kerren),,,,daaaannnn bagaimana lagi dengan cara bisnis nan aneh yang dilakukan oleh promotor flim layar lebar ayat-ayat cinta ini. Bukankah flim ini sebelumnya hendak ditayangkan pada bulan desember 2007 kemarin? Tapi mengapa flim tersebut diundur-undur melulu hingga bulan Februari 2008, dengan statement perlunya penyesoran alian pemotongan adegan yang dianggap tidak layak. Dan seminggu menjelang flim tersebut diputar serentak di seluruh bioskop tanah air, cd bajakannya sudah keluar lebih dahulu. Nilai plus dari cd bajakan tersebut,adalah  tidak adanya pemotongan adegan seperti flim layar lebar yang diputar di bioskop…Hhhm….apa yang dipikirkan seorang Hanung? hahaha…
Begini aja degh, kalau merasa nggak bisa membuat flim atau nggak punya kemampuan memadai, alias merasa nggak sanggup membuat flim sebaik novelnya, lebih baik nggak usah, daripada setengah-setengah yang akhirnya lama-lama terkesan cuma cari sensasi n nebenk cap ‘best seller’ hehe dari berbagai kontraversi serta membawa-bawa ketidak sempurnaan seorang seniman.. Tapi dibalik SANGAT BANYAK KEKURANGAN…hehe ok-lah flim ini bagi mareka yang belum membaca novelnya (serius!) yang penting masih ada nilai moral dan religi yang bisa penonton angkat..