Hari ini, aQ menemani salah seorangtemanQ ke rumah tantenya di daerah Sungguminasa Gowa. Sesampainya disana, ternyat aia punya tujuan lain. Ia hendak menemui ‘orang pintar’. ‘Orang pintar’ adalah sebutan atau istilah agi seseorang lain dalam ilmu gaib atau sesuatu yang berada di bawah alam sadar manusia. temanku dan orang-orang didaerah tersebut memanggilnya Dg. Tobo. Sebut juga temanQ **** saja. OKey?!
Untuk sampai disana, Qmi harus mengguinakan angkot jurusan Sungguminasa Gowa (untuk pertama kalinya aQ naik angkot jurusan ini!). Cukup jauh memang, setelah melewati lapngan Syekh Yusuf, Qmi harus naik becak untuk bisa masuk ke jalanan yang lumayan kecil dibanding jalan yang Qmi lewati sebelumnya. Melewati area perkuburan Qmi menemukan tinkungan kecil menuju perkampungan warga. Rumah Dg. Tobo ternyata tidak terlalu jauh dari tikungan tersebut. Seorang gadis belia berbaju hitam dengan celana trainning merah tengah duduk bersantai di depan sebuah rumah kecil. Rumah bercat pink dengan tanpa tembok pembatas antara tetangga dan pagar, hanya ada pembtasa teras yang tingginya mencapai pinggang orang dewasa. Seklias aQ meihat ada ‘2 tamu/pasien’ di ruang tamu. Dua orang pria, 1orang paru baya dan seorang lagi sekitar umur 30-an dengan kumisnya yang berantakan.
**** kemudian bertanya pada gadis berbaju hitam tadi "Ada Dg. Tobo?" katanya sambil duduk di pembtasa teras yang sudah sedikit hancur sana-sini. aQ mengikuti **** untuk duduk di pembatas teras tersebut. Sambil memandangi tamu yang ada di dalam. Ada rasa penasaran. aQ kemudian bertanya apada ^^^^. Kenapa ia mau datang ke sini? Tapi aQ melihat gadis berbaju hitam tsb tersenyum kemudian menjawab pertanyaan ****, "Dg. Tobo sedang ke rumah di belakang. Sebentar lagi datang. Duduk meki dulu. Tunggui saja". aQ dan **** hanya tersenyum tipis. Dan **** menjawab pertanyaanku "karena saya mau tahu, bagaiamana selanjutnya anatara aQ dan suamiQ saat ini". aQ menagngguk pelan. Kemudian **** mengajakku ke warung sebelah rumah Dg. Tobo. Nampak **** membeli dua buah lilin kecil berwarna merah dan sebuah telur ayam mentah, aQ kemudian membeli satu gelas air mineral (aQ suka pusing dan mual klo naik angkot). Setelah itu, Qmi  kembali ke rumah Dg. Tobo.
"**, kenapa beli lilin dan telur?" Tanyaku sambil meneguk cepat air mineralQ
"Memang pake lilin dan telur sayang…" Jawabnya pelan.
Tidak berapa lama kemudian, Dg. Tobo datang. Lelaki kurus dengan menegnakan kopian, baju berwarna coklat dan celana kain hitam. Dia tersenyum kepada Qmi dan kepada dua orang lelaki yang ada di ruang tamu. Setelah itu Qmi sema dipersilahkan masuik bersamaan.
"Boleh juga nich, aQ masuk?" Tanyaku berbisik pada ****, **** hanya mengangguk pelan. Pelan aQ kemudian membuka sepatu kets putihQ, kemudian aQ menoleh, gaids berbaju hitam tadi sudah masuk ke rumah melewati pintu samping.
Semua telah  masuk ke rumah, pelan aQ masuk ke ruan tamu, lalu meletakkan air minumQ yang masih tersisa sedikit di atas meja ruang tamu…….—nalarQ bilang, aQ akan mebutuhkannya sebentar—– Hahaha!
Kemudian, Qmi masuk ke ruang tengah. Tidak ada kesan suram ataupun hawa-hawa mistik di ruangan berukuran 6 x 4 m itu. Tidak ada plafon di ruangan itu hingga ke bagian dapur. Plafon hanya sampai di ruang tamu yang berada di depan. Ada tangga kayu mneuju loteng sederhana di sudut pembatas ruang tengah ini dengan ruang tamu. Dan sebuah jendela di belakang Dg. Tobo. Hingga wajahnya hampir menjadi gelap karena membelakangi cahaya dari jendela. Ada sebuah kendi dengan tutupnya di sudut ruangan lainnya. Tidak ada benda mecolok kecuali kendi tersebut, dan sebuah guci kecil berisi arang, meja kecil dengan priring-piring kecil berisi serbuk-serbuk, dan sebuah baskom merah di depan Dg. Tobo. Dengan pelan, aQ dan **** duduk menghadap Dg. Tobo, dan dua lelaki tadi duduk di samping Dg. Tobo. Pria paru baya di samping pria berkumis tadi namapak menjelaskan alasan kedatangan mereka di rumah Dg. Tobo dalam bahasa Makassar —-aQ tidak mengerti—-, lalu aQ berbisik pelan ke ****,
"Bisakah kau menterjemahkan semua perkataan yang adi di ruangan ini untukQ?"
"Hahaha—tertawa pelan—- ok!" Kata **** sambil mengacungkan jempolnya.
Kemudian, aQ melihat pria berkumis tadi mengangkat pelan baju kaos yang dikenakannya sambil menunjuk bagian perutnya sebelah kiri.
"Dia bilang apa? Kenapaki itu?" Tanyaku pada ****
"Katanya bagian oerutnya itu selalu sakit. Walaupun sudah ke R.S, dan berobat tetap saja tidak sembuh. Perasaannya juga tidak enak" Jawab ****
Kemudian, Dg. Tobo mengambil guci kecilnya yang mengeluarkan asap akibat arang yang dibakar didalamnya. Kemudian, Dg. Tobo menyalakan lilin kecil di atas meja kecil. Mengambil air dari dalam kendi dan menuangkannya di dalam gelas kaca. Lalu diambilnya garam kasar, kemudian garam kasar tersebut ditaburi di atas guci berasap tersebut. Samar aQ mendengar Dg. Tobo melantunkan ayat-ayat al-Quran. Kemudian dengan tangan kanannya dia menutupi setengah guci hingga asap-asapnya melewati sela jari-jarinya. Kemudian, dia mengambil telur yang juga sudah dibawa oleh kedua pria tersebut. Lalu memegangi telur tersebut melewati asap. Nampak Dg, Tobo tengah konsentrasi. Kemudian, dia memecahkan pelan telur itu di pinggiran guci, lalu membuka bagian atas telur. Hingga telur tersebut terbuka setengahnya. Lalu dia masih memegangi telur tersebut di atas kepulan asap tipis. Setelah itu dia menuangkan isi telur ke dalam gelas kaca yang berisi air. Nampak kuning telur tersebut menyentuh dasar gelas dan warna putih telur mengembang di atasnya. Dg. Tobo mengambil gelas kaca tersebut kemudian sedikit membutuhkan penerangan dari cahaya jendela, dia seakan menerawangi telur dalam gelas kaca tersebut. Lalu dia berbiacar dengan kedua pria tersebut dalam bahasa makassar yang sama sekali tidak Qmenegerti!!! ^_^’
"Apa kata mereka…?!!!" Gemes aQ bertanya pada ****.\
Kira-kira begini isi pembicaraan mereka menurut ****
Dg Tobo :"Ada yang ‘kirim’/guna-guna…"
Pria paru baya : " Astaga, jadi..?"
Dg. Tobo :"PernahQ kerja di Bone?" Tanyanya pada pria berkumis
Pria berkumis :"iya. 3 tahun yang lalu"
Dg. Tobo :"Ada pacarTa’ datau orang yang ndak suka sama kita di sana. Jadi dia kirim"
Pria berkumis tiba-tiba menunduk pelan : "Siapa di’….tapi…"
Terdengar jelas pria berkumis nampak ragu
"Ada barangkali pacarTa’ di sana…hehe" **** ikut campur juga.
Pria paru baya : "Ada barangkali ko kasih sakit hati cewekmu di sana!"
Pria paru baya melirik ke arahQ, karena dari tadi aQ hanya bisik-bisik dan mau tahu aja pembicaraan mereka melalui si kamus bahasa daerah berjalan, ****. aQ lalu etrsenyum simpul dan menunduk sedikit. Kemudian pria paru baya, menjeleaskan dalam bahasa Indonesia kepadaku..
"Ini keluargaku juga (menunjuk ke pria berkumis), pernah juga ada anakku yang kena guna-guna, jadi kuobati disini. Alhamdulillah sembuhmi" Jelas sekali pria paru baya ini tahu, aku masih tidak percaya dengan semua ini… -_-
Kemudian, Dg. tobo meminta pria berkumis untuk duduk menghadap ke arahnya. Lalu Dg. Tobo memegangi bagian perut yang sakit sambil berdzikir. Pria berkumis tadi kontan seperti nampak menahan rasa sakit. Tiba-tiba kakinya bergetar hebat. aQ tercengan juga melihatnya. Kemudian Dg. Tobo tertawa pelan lalu berkata lagi dalam bahasa Makassar —doyan amat sich pk bahasa Makassar—
"Nich…nich…ada sesuatu memang dalam tubuh Qmu, Qmu nggak negrasa apa-apa khan dengan bergetarnya seluruh kaki Qmu ini?!". Pria berkumis hanya mengangguk keheranan.
Setelah itu Dg. Tobo mengambil sebotol air minum berukuran besar dan menuangkannya di dalam baskom bersih yang baru diambilnya dari dapur sederhana. Lalu dia mengambil sebuah benda mirip keris berukuran kecil. Lalu digerakkannya benda tersebut di dalam air tersebut sambil melantukan doa-doa. Setelah itu dimasukkanya kembali air itu ke dalam botol semula. Lalu menyarankan agar pria berkumis tadi rutin meminum air tersebut. Setelah itu, pria baru baya menjabat tangan ‘tempel’ ke Dg. Tobo. Dg. Tobo lalu bersyahadat dan menciumi ‘hasil tempel’ tersebut dari kening - hidung - bibirya dan memasukkanya ke dalam kantun bajunya sambil berujar pelan "alhamdulillah"
Kini giliran ^^^^ yang diperiksan. aQ dan **** mnedekat. aQ pensaran! Dg. Tobo melakukan hal serupa seperti yang dilakukkanya pertama kali tadi. Dia mengambil air dari dalam kendi, menuangkannya ke dalam gelas kaca. Menyalakan lilin, menebarkan garam ke dalam guci. Lalu memecahkan telur di pinggiran guci, dan mencelupkan isi telur ke dalam gelas berisi air. Dengan posisi menerawang kembali. **** mnejelaskan perihal masalah yang tengah dialaminya. Syukurlah kali ini, **** dan Dg. Tobo bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia berlogat/berdialeg Makassar yang kental abis…
bla…bla…bla…bla….bla…——— aQ tidak perlu menjelaskan khan masalah ****?! Hmmm :) Setelah itu, **** di suruh duduk dengan kaki memanjang lurus ke depan. Dg. Tobo memegangi ujung jari jempol kanan ****. Tiba-tiba **** sedikit menangis.
"Sakit sekali kodoung.." Ujar ****
"Ada yang suka ya sama kau sekarang atau dekat sama kau sekarang?"
**** menjawab dan menjelaskan lagi masalahnya…bla…bla…bla…bla…
"Kau tidak bisa lupaki toh? Gelisahko selalu dan ada bagian ‘tertentu’ di badanmu yang selalu sakit toh?"
**** menjawab pelan "iya"
"Ada tahi lalat di ‘bagian itumu?’"
"Iya" Jawab ****
"Dia masuk melalui tanda itu….di bagian itu…"
Kemudian dia memegangi kening ****. **** sedikit menangis. aQ melihat dengan seksama, lebih tepatnya, Dg, Tobo hanya menunjuki pelan ke kening ****.
"Orang yang mengirimimu berasal dari ilmu di Galesong, hanya supaya Qmu tidak berhenti memikirkan dia dan Qmu menuruti semua keniginan dia…"
**** membuka matanya, dan melap air matanya, lalu menjawab pelan "Iya…memang begitu…"
"Apa yang saya berti tahu sama kamu, hanya berupa nasihat. Jodoh, mati dan sebagainya semua tetap Allah yang mengaturnya….Sebaiknya..kamu….bla…bla…bla…bla"
**** menangguk pelan. aQ melirik jam tanganku. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30. Sebentar lagi, rapat Study Club di kampus dimulai. Jadi aQ dan **** segera berpamit pulang…
Qmi segera berjalan menuju ruang tamu. aQ lalu mengambil kembali air mineral yang tadi sengaja aQ sisakan di atas meja ruang tamu. aQ lalu meneguknya dengan cepat.
Mau tahu nggak kenapa? Drtd aQ ngerasa nggak sabaran, ngerasa marah. G jelas banget khan?! Air mineral yang Qsimpan tadi benar-benar membantuQ. Kemudian begitu naik angkot, aQ tahu, aQ butuh sesuatu…yah…dzikir…
aQ sedang mikir, di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan perkembangan di sana-sini, sampai-sampai pergaulan pun semakin pesat dan sedikit melunturkan nilai-nilai budaya, tetapi di tengah pergolakan itu semua, petualangan di alam gaib ternyata belum juga ketinggalan terlalu jauh di belakang, alias kayaknya nggak bakal pernah mateee….ad aja penggemar2 tertentu dunia macam itu. Guna-guna atw santet, atw terwangan, atw ap kek belum juga ketinggalan zamannya. Hal yang kayaknya udah katro n norak banget ini masih dilirik sebgian oarang untuk dijadikan alternatif lain dalam menyelesaikan suatu masalah yang menurut sebagian orang juga nggak bisa diselesaikan!
Dg. Tobo bahkan sempat ngomong gini "Dukun paling bodoh adalah dukun yang mau aja ngebantu orang2 yang berprinsip —cinta di tolak, dukun bertindak—…
Subhanallah…..mari berfikir. Inilah salah satu pula rahasia Tuhan…
Mmm….