Kepada Yth
Tuan yang mendatangiku
Di
Suatu tempat

Assalamu Alaikum. Wr. Wb
Apa kabar Tuan hari ini? Masihkan Tuan sedang merasa gelisah, resah, jenuh ataukah tengah berbahagia? Apapun kabar hati dan pikiran Tuan saat ini, saya tetap berharap Tuan dalam keadaan fisik yang sehat dan bugar.
Pertama-tama, saya ingin menyampaikan maaf sebelumnya, telah lancang mengirimi surat ini untuk Tuan. Bidang komunikasi Tuan….memang sangat maju pesat tapi dengan segala kerendahan hati tanpa maksud melecehkan peradaban tekhnologi , izinkan aku merantai desir batinku lewat jemariku saja.
Tuan yang mendatangiku memang tak sama dengan Tuan yang pernah kukirimi surat pula. Begitupun isi surat ini dan sebelumnya ditujukan untuk dua orang yang berbeda yang sama-sama aku hormati, karena besarnya pengaruh yang dua orang Tuanku berikan padaku…
Bukan pengorbanan yang tampak mata yang Tuan berikan padaku, tapi lebih dari itu, Tuan membisikkan dan meniupkan aroma pasir, debu, air, cahaya, luka dan darah,,,
Tuan yang mendatangiku, kutitip sekelebat cerita tentang diriku yang selalu terkubur, rupanya menjadi angin semata, berat hati kucanangkan kembali dalam ruangku. Usah Anda menyejukkannya sebab, dariku tak ada yang bisa Tuan bingkai…tak pernah seperti mutiara-mutiara-mu yang menakjubkan, sekalipun mataku terpejam…perbandingan yang tak bisa terbendung, malunya Tuan aku kepadamu….
Tuan….Tuan yang mendatangiku, dengan lilin kecil di kakimu, Anda membelai dengan cinta yang agung, Anda mengajariku tarian-tarian kehidupan, nyanyian harapan yang iramanya Anda perkenankan dariku, sungguh suatu kehormatan.
Tuan seperti membuatku meneguk telaga kautsar di gurun sahara, walau akhirnya Tuan memecahkan kendinya dan bangunkanku bahwa Tuan pernah terkubur di gurun dan pernah bermandikan tetes sungai bening nan menyejukkan yang melahirkan benihmu, menumbuhkan bibit bunga-bunga walau kini tak tumbuh bersamamu. Dengan keyakinanku, kusematkan butir-butir pasir gurun di kantung bajuku, biar ku teguk dahagaku sendiri di hamparanmu dan kudekap udara kering ini…demimu Tuan yang mendatangiku.
Tuan yang mendatangiku, semakin lama tak bisa aku tantang perasaanku sendiri. Berharap ku kenali diriku justru akhirnya tak bisa kubendung akhlak bodohku sendiri. Tuan, aku membuatmu goyah, aku membuatmu resah, aku membuatmu marah, akupun pernah membuatmu bimbang, membuatmu meragukan cintaku…hendak kuputuskan nadiku dihadapmu sebab saat itu-lah ku tahu tak pernah bisa sejajar denganmu ataupun tinggi dihatimu dan tanpa Tuan sadari, kadang Anda-pun tak pernah menginzinkan demikian…
Tuan, sesekali Anda berikan padaku yang kuminta tapi bukan yang kubutuhkan, dan semakin lama kusadari pula semakin besar ketabahan yang Anda beri untukku.
Tak ku kuasai otakku sendiri, tak bisa ku terjemahkan lidahku sendiri. Sungguh lancang aku bermimpi Tuan akan bersamaku menemukan diriku yang belum jua kutemukan…
Maafkan aku Tuan, tak pernah mampu aku membasahi tubuh dan jiwamu dengan keharuman, rendahnya jariku menggenggam kulitmu.
Lancang benar aku mengharapkanmu…
Tapi…tak jua berani kubayangkan tidurku tanpa desaha nafasmu…aku kian menggoreskan luka di hatimu…mungkinkah suatu saat Anda akan letih membawaku hingga terhempas aku kelak dengan kemarahan dan kebencianmu…
Maka, akan berdarah dalam kedipan mataku, sampai Tuan saksikan aku yang buta suatu hari nanti…
Terima kasih Tuan yang mendatangiku…mendatangi hidup dan hatiku…

Dari,
Seseorang yang kau datangi…